Sunday Oct 02, 2022

Cara terbaik untuk mendisiplinkan anak 

Cara terbaik untuk mendisiplinkan anak 

Tentang Displin

Salah satu tugas yang seharusnya dilakukan orang tua adalah mendidik anak untuk berperilaku baik termasuk disiplin. Ini memang cukup menyita waktu dan membutuhkan kesabaran lebih khususnya bagi para ibu.

Mendisiplinkan anak sebaiknya tidak dengan menghukum setiap ia melakukan perilaku buruk. Berdasarkan penelitian, tamparan, pukulan, maupun bentuk hukuman fisik lainnya tidak bekerja memperbaiki perilaku anak. Begitu juga dengan berteriak, menghentak, atau mengeluarkan kata-kata kasar di depan anak. Bukan membuatnya sadar dan menjadi disiplin  malah dapat menimbulkan dampak negatif dalam jangka panjang.

Mengapa kekerasan fisik dan verbal tidak efektif untuk mendisiplinkan anak?

1. Membuat anak menjadi pemarah

Tamparan atau kekerasan fisik lainnya dalam pola asuh ternyata tidak mengajarkannya tanggungjawab malah akan membuatnya menjadi seseorang yang pemarah dan tidak bisa mengendalikan diri. Sebuah penelitian terhadap anak hasilnya menunjukan bahwa mereka yang tinggal di lingkungan keluarga yang keras dan saat menghukum orang tuanya menggunakan kekerasan fisik dan verbal seperti memukul, menampar, atau berkata kasar justru akan membuat anak semakin berperilaku buruk. Akibat mendapatkannya di rumah, si anak akan mencari pelarian di luar rumah dan melampiaskannya. Mereka akan lebih menjadi seseorang yang pemarah dan memiliki sifat harus mendapatkan apa yang diinginkan. Jadi apabila tidak mendapat yang diinginkan bisa saja mereka memukul orang lain.

2. Perkembangan otak terganggu

Hukuman fisik terkadang meningkatkan risiko cedera dan tak jarang akan menimbulkan bekas luka baik fisik di tubuh maupun mental. Anak yang terkena hukuman fisik oleh orang tuanya akan menunjukkan tingkat hormone stress yang lebih tinggi. Selain itu, perkembangan otak mereka juga akan terganggu. Ini telah dibuktikan penelitian, dimana hasil studi menemukan bahwa remaja atau orang dewasa yang pada masa lalunya dipukuli berkali kali akan sulit mengendalikan diri dan hasil tes IQ nya juga lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak mengalami kekerasan fisik.

3. Mempengaruhi kesehatan mental

Pelecehan verbal dengan meneriaki anak dan melontarkan kata-kata yang menyakitkan dapat menimbulkan rasa sakit hati pada anak dan juga trauma karena malu. Ini tentu tidak efektif dan berbahaya serta dapat membuat masalah kesehatan mental pada anak.

Bagaimana cara mendisiplinkan anak tanpa menggunakan kekerasan fisik dan verbal?

Ada cara yang efektif untuk mendisiplinkan anak tanpa harus memukul, menampar, atau melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Cara tersebut adalah dengan menentukan aturan dan menerapkan konsekuensi.

Aturan ini tentu dibuat untuk anak agar mereka dapat belajar untuk hidup kooperatif dengan orang lain, mengajarkan cara membedakan mana yang salah dan mana yang benar, dan melindunginya dari segala bahaya baik yang bersifat fisik maupun mental. Anak yang dididik tanpa batasan atau aturan dapat mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan sosialnya.

Orang tua dapat menetapkan aturan dan batasan terlebih dahulu yang konsisten dan masuk akal. Setelah itu mulailah mendisiplinkan anak dengan cara:

  • Jadikan diri Anda sebagai contoh yang baik untuk anak. Perlihatkanlah perilaku baik di depan anak agar mereka bisa menirunya.
  • Lihatlah perkembangan perilaku anak, apabila mereka melakukan perilaku positif pujilah anak dengan kata-kata yang menyenangkan. Contohnya saat mereka sudah bisa melipat dan menaruh bajunya sendiri di lemari katakana kepada mereka “wah anak mamah sudah cantik, pintar, rapi lagi. Senang deh melihatnya.”
  • Saat anak berbuat salah jangan mengomel dan mengancamnya dengan kata-kata kasar. Beberapa anak mungkin akan disiplin setelah diomeli tapi sebenarnya ini bukan cara efektif. Dari pada mengomel lebih baik memberi arahan kepadanya bahwa perbuatannya itu salah dan jelaskan konsekuensinya agar mereka tidak mengulanginya lagi.
  • Selalu bimbing dan jelaskanlah mana perilaku yang dapat diterima dan mana yang tidak.
  • Saat mengoreksi kesalahannya, hindari berdebat dengannya. Cukup nasehati dengan cara yang halus dan sabar

Gary Sanders

Back to Top